Ogan Ilir, Sumatera Selatan (13/04), Rapat Koordinasi (Rakor) dalam rangka optimalisasi, pencegahan, dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) tahun 2026 digelar di Aula Polres Ogan Ilir. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur , mulai dari pemerintah daerah, instansi terkait, Polri, BPDP, dan BMKG. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi potensi karhutlah yang diperkirakan meningkat pada musim kemarau tahun ini, khususnya di wilayah rawan kebakaran seperti lahan gambut di Kabupaten Ogan Ilir.

Dalam kesempatan ini, BMKG yang dihadiri langsung oleh Siswanto, ST., M.Si selaku Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang menyampaikan analisis kondisi cuaca dan iklim terkini. Berdasarkan data yang dipaparkan, wilayah Sumatera Selatan berpotensi mengalami periode hari tanpa hujan yang cukup panjang, sehingga meningkatkan risiko munculnya titik panas (hotspot) dan kebakaran lahan. Beliau menegaskan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dan iklim sebagai langkah mitigasi dini. Informasi prakiraan cuaca harian, peringatan dini kekeringan, serta pemantauan hotspot diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan di lapangan.
Kapolres ogan Ilir dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh personel dan instansi terkait. Ia menyebutkan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama, melalui patroli terpadu di wilayah rawan serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Selain itu, rakor ini juga membahas kesiapan sarana dan prasarana pemadaman, termasuk ketersediaan peralatan, sumber air, serta koordinasi cepat antar instansi saat terjadi kebakaran. Beliau juga turut mendorong peran aktif masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya deteksi dini serta pelaporan kejadian karhutlah. Upaya ini dinilai penting untuk mempercepat penanganan sebelum api meluas.

Dengan digelarnya rakor ini, diharapkan seluruh pihak dapat meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman karhutlah tahun 2026, sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir, baik terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun aktivitas ekonomi.



